Cerbung : Manglayang

Oleh: Risky Aprilia

Mahasiswi Unpadj Bandung

“kiw… kiw… kiw” saling bersautan, suara khas yang digunakan para pendaki gunung untuk saling menyapa dari jarak jauh seraya melangkahkan kaki menyusuri jalan setapak yang terus menanjak sambil menggendong tas gunung yang ukurannya super besar, menggunakan vokal “i” dengan sedikit valseto agar suara lebih nyaring dan memantul. Mendaki gunung, olahraga yang sedang digandrungi kaula muda, bertepatan dengan musim libur panjang, hampir semua siswa di sekolahku mengisi waktu liburnya dengan mendaki gunung dan berkemah, baik laki-laki maupun perempuan termasuk aku. Namaku Rama, salah satu siswa sekolah menengah atas di Sumedang. Sebetulnya aku tidak terlalu menyukai kegiatan-kegiatan yang menguras keringat seperti mendaki, namun apa boleh buat untuk menjadi anak gaul agar tidak dicap sebagai anti sosial, aku harus mengikuti sebuah acara berkemah. Ini adalah acara kelas jadi jika ada seseorang yang tidak ikut, pasti orang itu dianggap tidak solid.

17 Desember 2015, tanggal acara sudah ditetapkan dari jauh-jauh hari, mereka seakan tak sabar ingin merasakan nuansa berkemah di tengah hutan, di puncak gunung, di bawah ribuan bintang, ditemani api unggun, diiringi petikan gitar, dan dihiasi gelak tawa teman-teman sekelas.
Untuk pendakian kali ini kami memilih Gunung Manglayang. Manglayang cukup populer namanya di kalangan para pendaki, dengan ketinggian 1818 mdpl dan terletak di Kecamatan Jatinangor, masih termasuk Kabupaten Sumedang. Dua hari menuju tanggal acara, anak-anak kelas mulai melakukan beberapa persiapan, membeli makanan ringan, mie instan, senar gitar, baterai kamera, menyewa tenda dan lain-lain.

17 Desember pun tiba, sialnya tepat pada tanggal ini. Kakakku mengalami kecelakaan lalu lintas, mau tidak mau aku harus menjenguknya terlebih dahulu ke rumah sakit dan syukurlah luka yang ia alami tidak terlalu parah dan memungkinkanku untuk melanjutkan rencana berkemahku. namun tetap saja hal ini cukup menyita waktu. Rencananya aku dan kawan-kawan akan naik gunung sekitar pukul 14.00, dan sekarang jarum jam menunjuk angka 3, aku terlambat satu jam, setelah packing aku mulai berangkat dari rumah ke kaki Gunung Manglayang menggunakan sepeda motor, dengan harapan masih ada satu atau dua temanku yang menungguku di kaki gunung. Kaki Gunung Manglayang atau biasa disebut Barubeureum menyediakan tempat parkir kendaraan. Parkiran ini cukup aman sehingga para pendaki dapat dengan tenang meninggalkan kendaraanya, setibanya di parkiran, aku merasa heran, tak seperti biasanya parkiran ini kosong, padahal di musim liburan seperti ini seharusnya banyak pendaki yang berkemah, lebih mengherankan lagi ketika ku lihat warung Ibu Santi yang lokasinya tepat di kaki gunung itu tutup, tidak seperti biasanya, dan dimana kendaraan teman-temanku?, ah sudahlah, mungkin mereka menggunakan jasa kendaraan sewaan semacam mobil bak terbuka, dan Ibu Santi, mungkin beliau sedang berlibur, pikirku. Tanpa berlama-lama, aku mulai melangkah ke kaki gunung dari kejauhan aku melihat salah satu temanku, Wiga. Wiga adalah ketua murid di kelasku, ia bertanggung jawab penuh atas keselamatan semua anggota kelasnya selama pendakian, mungkin alasan itu yang membuatnya menungguku, dia tiba-tiba memalingkan muka dan mulai pendakian setelah melihatku, wajahnya terlihat sinis, mungkin ia jengkel karena harus menungguku lama. Ia terus menanjak, jaraknya sekitar tiga meter dariku,
“Wiga, maafin gue dong, tadi kakak gue kecelakaan jadi gue harus jengukin dia dulu”, permintaan maafku tak digubrisnya,
mungkin ia terlalu kesal, ia hanya diam dan terus menanjak, aku sadar, jika kami terlambat ke puncak, maka tenda kami akan selesai didirikan setelah gelap turun. Batu kuda dan pohon keramat telah kami lalui, batu kuda adalah sebongkah batu yang bentuknya mirip seekor kuda dan pohon keramat adalah jenis pohon beringin yang menjulang tinggi dengan lekukan cekung di tengah batangnya, diperkirakan pohon ini sudah menginjak usia ratusan tahun, konon pohon ini sering dijadikan tempat pesugihan oleh orang-orang yang gila harta. Sepanjang perjalanan tak ada satu patah kata pun keluar dari mulut Wiga, aku jadi serba salah.
Matahari mulai terbenam, 17.30, beberapa meter lagi kami akan sampai puncak, melelahkan sekali, Wiga sudah tak terlihat tas gunungnya. Tiga meter, dua meter, satu meter dan “bruk” aku membaringkan badanku di tanah, lelah sekali, “guys maaf gue telat”, kata maafku dibalas dengan keheningan, biasanya mereka menyambutku dengan suara yang berisik, aku mulai berdiri dan menoleh ke arah teman-temanku, betapa kagetnya aku ketika melihat tak ada satu pun tenda yang berdiri di tanah lapang puncak Manglayang, yang seharusnya tanah lapang ini dipenuhi tenda-tenda temanku atau para pendaki lainnya, namun sekarang kenyataanya tak ada satu pun, satu pun!. Aku benar-benar tidak percaya,
“Wiga….. Wiga…. kenapa teman-teman kita gak ada?!!…. Wiga….!!!”, tanpa ku sadari, Wiga pun menghilang entah kemana, seketika ku rogoh tas gunungku untuk mengambil telepon genggam, ternyata telepon genggamku tidak aktif sedari tadi, aku mulai mengaktivkan dan
“tingtong…. tingtong….. tingtong….. tingtong…”, banyak pesan yang baru masuk, pesan di grup kelas,
Wiga: “guys…  sorry nih acaranya diundur, gue lupa kalo hari ini tuh malem Jumat, sebenernya jam 13.00 gue udah di lokasi, cuman pas liat warung Bu Santi tutup, gue jadi keingetan malem jumat, tau sendirilah alesannya, oke guys sorry ya hehe”,
Rika: “Ya ampun, untung lu ingetin, gue juga lupa kalo sekarang malem jumat”,
Ardi “Selamet…. selamet…  maklumlah orang lagi libur jarang liat kalender ekwkwk”,

Demi Tuhan aku pun lupa bahwa hari ini hari Kamis, malam Jumat. Salah satu pantangan di gunung ini adalah naik di malam Jumat, menurut cerita lokal yang beredar dari mulut ke mulut, malam Jumat adalah waktunya para siluman berkumpul di Manglayang, pernah ada beberapa kejadian tentang hilangnya para pendaki di Manglayang, mereka hilang saat berkemah tepat pada malam Jumat. Aku lemas, kakiku gematar, jadi tadi yang mendaki bersamaku siapa?, sekarang apa yang harus ku lakukan?, aku menangis sejadi-jadinya, sementara malam mulai turun, tidak mungkin aku turun gunung di saat gelap, hal itu terlalu berisiko, ular, babi rusa, kelabang, kalajengking atau hewan liar lainnya bisa saja membunuhku. Bingung, panik, aku coba berpikir, tenang… tenang… tenang… tarik nafas…, tapi tidak bisa, keadaan ini terlalu sulit. (bersambung)