Dermaga Tua di Pulau Neira

Cerpen : Dahlia Rasyad

SEPERTI pala, kau menebarkan aroma kepedihan. Bunga-bunga ratapan dari angin timur yang menerbangkan haru biru perpisahan. Masih terdengar degap-degap kapal yang membawa sauh kekasih entah ke mana. 400 tahun lalu, di pesisir Neira, dalam kemelut berdarah tak tertanggungkan.

Kota itu kini tak sama lagi di matamu. Lalu-lalang orang-orang asing dengan karung-karung pala di pundak awak-awak kapalnya, terompet dan asap dari kapal-kapal yang hendak merapat, dan budak-budak belian di kapal-kapal Banda yang hanya punya jangkar kayu dengan pemberat batu, hanya tinggal dermaga-dermaga tua yang lengang, lapuk dalam semaknya rimbun ilalang, dengan baris-baris kapal yang hanya menangkap ikan.

Ya, kehidupan pelaut sudah usai, tapi tragedi itu seakan tak pernah usang. Masih terdengar cabikan-cabikan pedang yang menyayat, teriakan-teriakan histeris, dan kobaran-kobaran api di pulau-pulau bayi. Di titian itu, di atas terumbu karang yang warna-warni, kau masih bisa melihat lumba-lumba pemintal dan kerabat-kerabat lobster berenang dalam air sebening kristal. Ikan-ikan napoleon wrasse dan cepluk bergigi merah bersama kura-kura purba dan paus yang cantik. Juga ikan karang yang jinak dan lepu ambon yang berseliwer dengan anak-anak hiu, kerapu raksasa, sinar mobula, serta bayangan dirimu yang tak pernah menua.

Tak dapat disangkal, hanya pemandangan itu yang membuatmu serasa masih hidup. Terbayangkan malam itu, di dermaga tua Pulau Neira, kau melepasnya dalam rasa kalut yang meronta. Mungkin laman lebih dekat ketimbang peluk hasrat kekasih. Andai saja kau ikut bersamanya kalian pasti sudah beranak-pinak, bahagia merajut dunia baru jadi kampung halaman asing di pulau perantauan. Tapi, bukan hidup kalau tak dirundung kemalangan. Hanya saja kau tak punya waktu untuk melihat semua itu berakhir, dan menemu ketenangan.

Meski kemelut berdarah itu telah lama dilukat waktu, namun kecamuknya terus lekat dalam ingatan. Begitulah masa silam, bagai raung tangis ibu yang memeluk menjelang kematian. Kecuali kerinduan, tak ada yang bisa membuat semuanya terulang…

***

Di kedai “SIBU-SIBU” samping dermaga orang-orang singgah, duduk menyeruput kopi dan papeda-papeda berkuah. Dalam pendar lampu minyak, kopi hitam itu membunuh kantuk mereka, bukan saja karena aroma gosong dan kentalnya tapi juga karena kuat cengkih dan kelat biji ketapang muda. Tapi ikan kuah pala di piring-piring yang kau seduhkan membuat mereka seketika kehilangan tenaga.

“Itu karena kamu orang terlalu capek, kedinginan dan tak pernah tidur. Beta cuma tambah sedikit,” belamu tersipu, saat mereka bertanya mengapa rasa lelah tiba-tiba datang dan membuat jadi kepingin tidur.

Hingga serupalah kau penyihir pematut kelaki-lakian. Yang meracik rempah andalan menjadi wangi memabukkan. Semacam perindu, wangi pala itu masuk ke hidung-hidung berbulu untuk kemudian turun ke hati. Yang tak pernah kau duga melambung ke mana-mana dan membuat semua orang berdatangan. Tatkala rasanya tercecap di lidah maka itulah berarti perang.

Ya, awak-awak itu namanya hampir tak dapat kau ingat lantaran banyaknya yang pulang pergi tak meninggalkan jejak di hati. Hanya pujian-pujian kolosal yang membekas, dengan keramahan-keramahan pejantan yang butuh kehangatan. Bukan, bukan tuak yang membuat mereka jadi terus singgah, atau wajah ayumu yang hitam manis. Tapi hangat aroma bubuk yang menyesap saat kau tuangkan ke dalam golakan sup. Mereka jadi sanggup duduk berlama-lama, bercakap tentang pelayaran jauh dan berat, tentang kisah bajak laut dan kapal-kapal hantu, dalam aroma bakar tuna, pala dan kopi yang menjadi satu.

Alih-alih menghantar kopi kau pasang telinga pada obrolan mereka. Konon di Timur Tengah bubuk ini ibarat morfin bagi orang yang sekarat dan sedang dalam pendarahan hebat. Di Cina serupa teh bagi orang-orang dirundung gelisah dan tak tidur berhari-hari. Kalau dibakar, wangi kayu gaharu terkalahkan. Membuat sesiapa yang mencium akan terhipnotis. Di Eropa biji ini dibuat obat untuk melemahkan energi orang-orang sakit jiwa.

Saat mata mereka mendapatimu, sebaris senyum kau hantar sebagai pujian.

Ai siapa yang tak tahu, Nona. Sejak zaman Firaun sampai Romawi orang-orang asing sudah berdatangan ke tempatmu. Bukan untuk membuktikan bahwa bumi ini bulat atau menyebarkan misi suci, melainkan hasrat mencari kekayaan. Ya, pala bak harta karun terpendam yang diincar raja-raja dunia. Bahkan ketika sebutirnya sama dengan segenggam emas, sungguh benar Amerika tak ada apa-apanya!

“Hahahahaaa…” tawa mereka pada kedunguan Columbus. Sang penjelajah ulung itu mati-matian ingin menemukan Maluku tapi tak pernah ketemu, dan malah menemukan Amerika yang ia kira anak benua India, tempat di mana pala ada. Tapi tak ada pala di sana. Dan orang-orang pribuminya tak suka disebut Indian.

Kedunguan itu diulangi oleh da Gama yang terus berputar-putar di Tanjung Harapan dan tak juga menemukan. Atau Magellan yang keliling bumi sampai nyawa sekarat tapi cuma menemukan Filipina dan mati pula oleh orang sukunya lantaran unjuk kebolehan. Orang Portugis itu nekad lepas dari kerajaan dan terombang-ambing nyaris dua tahun di lautan. Ao e! Ada pula de Champlain dan Hudson yang terseret ke hutan bersalju Kanada, atau moyang para penjelajah yang merambah dinginnya semak belukar Plymouth, dan pencari-pencari lain yang membeku di Pegunungan Novaya Zemlya, sampai terdampar di pulau-pulau kecil berhantu yang berjarak setengah bumi dari tempat tujuan mereka!

Hingga seorang Portugis berhasil ke Malaka dan memberangkatkan dua kapal layarnya ke kepulauan pala.

“Ah, orang-orang Portugis itu bisa sampai ke sini karena dituntun Orang Melayu. Kalau bukan karena Orang Mozambique juga si Alfonso tak bakal sampai ke Malaka,” cam mereka, mengangguk-angguk.

110 tahun sudah, dan kini Belanda yang berkuasa. Tatkala pikiran mereka terantuk ingatan akan sengketa panas yang sedang terjadi, seketika kebisuan menyergap. Tawa yang tadi bingar melenyap terhisap angin malam. Surga tempat mereka berpijak seakan tak lagi terasa berkah, melainkan tulah. Dan sup pala di meja pun mendingin tanpa candu yang berarti.

Ya, sejak kedatangan Inggris 19 tahun lalu— 3 tahun setelah Belanda datang, hari-hari mereka dipenuhi kecemasan. Kedua Eropa itu terus berseteru, bersitegang soal harga dan jumlah pala, soal ladang-ladang yang tumbuh di anak-anak pulau. Belanda Pulau Ay, Inggris Pulau Run. Namun sebagaimana kerakusan, Belanda tak bisa berbagi. Ingin semua jadi miliknya. Dan terjadilah perang yang bersambung-sambung itu.

“Orang kita bunuh Verhoeff karena dia orang suka main kasar. Berbeda dengan Inggris,” kenang seorang petani pada pertempuran melawan armada VOC yang ingin menduduki tanahnya 12 tahun lalu. Namun setelah kemenangan itu, 6 tahun kemudian, Belanda menaklukkan Ay. Melihat gelagat buruk yang bakal terjadi, Orang Run lantas menyerahkan pulaunya pada Inggris. Bukan karena takut atau ingin mengadu jago dua Eropa itu, melainkan karena mereka tak rela Belanda menguasai segalanya. Run dengan jutaan palanya akan terjaga di tangan Inggris karena mereka pedagang yang tidak tamak.

Di tengah perang dan perjanjian damai berulang-ulang, rakyat Banda terus berdagang dengan bebas tanpa memedulikan kebejatan Belanda yang ingin mengatur berapa dan ke mana pergi pala mereka. Tapi bukan ketamakan kalau tidak mendatangkan bencana kemanusiaan. Si tamak londo itu merasa pantas marah lantaran merasa memiliki pulau dengan merebutnya melalui perang-perang.

Dan malam itu, tepatnya 6 tahun berdagang bebas, sejak Ay dikuasai Belanda dan Run dipegang Inggris, seorang Nyong Salam yang tak lain tak bukan adalah pujaan hatimu berjalan tergopoh menuju kedai, dengan buntal pakaian di pundak dan parang serta salawaku tertenteng di kedua belah tangan.

“Ikut beta. Kita ke Kei Besar dan Seram. Kita harus meninggalkan Neira sebelum terlambat,” seretnya.

“Ada apa, Bang? Kenapa Babang ketakutan seperti ini?”

“Beta tak bisa jelaskan. Keadaan sudah meruncing. Kompeni marah besar karena kita orang main bebas. Ditambah dahulu kita sudah bunuh orangnya.”

“Bagaimana beta punya Papa Mama?”

“Ajak mereka. Ayo cepat. Kapal sudah menunggu. Kalau kita tidak melarikan diri sekarang kita akan dibantai habis oleh si Kun itu.”

“Beta tidak bisa meninggalkan kampung halaman, Bang. Papa Mama tidak mau. Kita orang tinggal di sini saja.”

“Ai Malea, esok kita ke sini lagi. Ke mana pun kita lari kita tetap Orang Banda. Kita harus pergi daripada mati atau diasingkan ke pulau orang. Kalau kita sudah dibuang tak akan ada harapan bisa ke sini lagi,” ia tengak-tengok ke arah laut di mana kapalnya menunggu.

“Tapi Bang…”

“Ale akan dibuang dan dijadikan budak di Batavia. Pulau ini sudah tidak aman.”

“Maafkan beta, Bang. Beta tidak bisa…”

“Malea…”

“Maafkan, Bang…”

Lelaki itu menelan ludah, melihat kekasihnya semakin susah. Ia sama sekali tak ingin meninggalkan gadisnya dalam keadaan begitu. Nasibnya sudah jelas terlihat, menjadi petani paksaan, budak belian di pengasingan, atau mati disiksa Kompeni. Keadaan membuatnya harus melakukan pelarian. Tak sudi ia mati sia-sia atau menjadi budak di pulau-pulau asing.

“Pulanglah kalau keadaan sudah aman. Beta akan selalu menunggu Babang di sini dan melaksanakan upacara perkawinan kita.”

“Malea…”

“Pergilah, Bang…”

Ia diam, melihat matanya sekali lagi sebelum bergegas menaikkan panggulan, menuju kapal.

JERIT tangis dan erang kesakitan orang-orang masih bisa kau rasakan. Darah yang bersimbah dan airmata mengilat dalam kenangan. Di pelupuk matamu kejadian itu terus berulang seakan kau sudah berada dalam neraka di mana surga berada. Tapi yang membuatmu terus berada di sana bukanlah tragedi itu, melainkan penantianmu.

Ya, hingga saat ini kau masih menanti, Malea. Kau tidak dibunuh atau diasingkan untuk dijadikan budak. Kau tetap di sana menjadi petani paksaan karena kau sangat tahu bagaimana membiakkan pohon itu. Ketika kau ditemukan di kedai untuk diseret ke kumpulan terbuang, si jenderal Kompeni melihat ragam makananmu yang terbuat dari pala; selai, manisan, asinan, acar, hingga pasta. Dari itulah ia melihatmu selaik peternak yang pandai mengolah. Tapi melihat pekerja-pekerja itu rasanya tak kuasa. Bukan saja mereka orang buangan yang sengaja diasingkan, tapi juga orang-orang asli Banda yang dulu ada kini tiada.

“Beta berharap mati daripada melihat kenyataan ini…” lirihmu.

Dan di bulan Desember saat anggur serupa zaitun manis tengah berbuah lebat-lebatnya kau nekad melarikan diri mempertaruhkan nyawa, mencarinya…

Dengan was-was kelewat besar kau susuri jalanan setapak di tengah kebun tanpa sedikitpun penerangan, hanya dengan berpegang pada pohon-pohon pala yang berbaris rata sebagai penunjuk jalan. Sambil melihat-lihat situasi kalau-kalau ada antek perkenier yang berjaga di kebun, kau tahu kau tidak boleh terlambat barang semenit pun. Kalau iya, maka kau ketinggalan kapal Cina itu, yang biasa membeli bunga pala di malam-malam buta.

Entah bagaimana kapal itu sudi kau tumpangi. Sebenarnya kau ingin menumpang kapal Orang Arab atau India, tapi karena waktu tiba mereka di hari yang belum gelap maka mau tak mau kau pilih kapal Tionghoa, meminta belas kasihan nahkoda Liong Ma agar menyembunyikanmu.

Dan tibalah kau di Pulau Kei Besar yang kau yakini adalah tempat lelaki Bala itu pergi. Pulau itu lautnya dalam dan penuh dengan ikan-ikan segar. Hanya kayu, perahu, kerang dan teripang. Karena itu orang-orang Barat tak menyentuhnya. Sebenarnya kau ragu apakah ia bersembunyi di sana atau di Pulau Seram. Bahkan kau berpikiran kalau ia dan orang-orang Banda lainnya ada di pulau-pulau tak berpenghuni. Tapi hatimu kuat tertuju pada pulau koral yang bergunung dan berhutan lebat itu, yang memungkinkan ia hidup dari berburu, bukan mengumpulkan ikan yang terjebak di terumbu karang atau di ceruk-ceruk pantai. Tidak, di saat-saat seperti itu orang-orang pelarian tidak boleh dekat-dekat dengan laut.

Kau pergi ke bagian barat dan timur laut, ke sebuah desa bernama Banda Eli di mana orang-orang Banda berkumpul di sana. Dari bahasa mereka kau seperti berada di kampung halaman sendiri, meski bahasa itu kian pudar seiring tiadanya orang-orang asli serta banyaknya pedagang asing dan orang-orang buangan yang datang. Saat fajar menjelang orang-orang itu menyambutmu dengan hangat pelukan, tak lagi bertanya alasan mengapa kau datang tapi bagaimana kau bisa sampai.

Di saat itulah kau utarakan tujuanmu yang sebenarnya.

“Munjab Tuharea?”

“Iya, Bapa Raja. Beta punya Papa Mama sudah mati. Beta sendiri jadi budak petani. Beta ke sini mencari beta punya Babang. Apa do ada?”

“Kita orang tidak pernah mendengar namanya. Ale istirahat saja dulu di sini. Siapa tahu do berganti nama atau ada di desa lain. Kita orang akan bantu mencari.”

Tak berapa lama, seorang anak muda Sarani bernama Julius Sapulette lamat-lamat mendekatimu setelah pengumuman yang disyiarkan sang kepala dusun di alun-alun.

“Nona ini Malea Tuhumena?”

Kau lantas berdiri. “Iya…”

Lelaki itu mengajakmu duduk di beranda rumah Baileo-nya yang sederhana.

“Do ikut kapal Cina dan berlayar ke mana-mana. Kapal itu ke India untuk membeli lada, jahe, dan kapulaga. Lalu ke Arab untuk jintan dan zaitun. Kapal itu juga sering ke Ternate untuk cengkih. Kadang mereka orang menukarnya dengan bunga lawang. Bentuknya seperti bintang. Harum kemanis-manisan. Apa Nona pernah melihatnya?”

Kau menggeleng, tak tertarik dengan itu. Hanya ingin tahu di mana calon suamimu berada.

“Do saat ini mungkin sedang di Mesir untuk mencari kayumanis, atau di Laut Kaspia cari ketumbar. Kapal itu datang dengan kiloan balok emas dan berangkat dengan ragam rempahan. Menurut perhitungan, kapal itu akan kembali lagi ke Banda untuk tawar-menawar pala.”

“Ke pulau apa?”

“Beta tidak tahu, Nona. Bisa Ay, Run, atau pula Lonthoir. Atau Neira…”

Kau diam, pikiranmu jadi tak karuan. Entah bagaimana hal buruk itu bisa terpikirkan. Pelayaran yang panjang memang melelahkan, dan gelombang besar bisa menenggelamkan. Tapi bajak laut?

“Munjab pernah kasihku lihat ini,” katanya, ke dapur mengambil sebuah botol berisi halusan basah saus berwarna krem. Ketika botol itu dibuka bau tajam menusuk.

“Apa ini?”

“Ini pertanda Munjab sudah ke Eropa. Namanya mustard. Dari biji sesawi giling.”

Melihat rempah buatan itu kau langsung berpaling.

“Bawalah sedikit. Usapkan ke dengkul yang dingin, tengkuk dan otot yang kaku. Sengatan kalajengking atau digigit ular dan luka-luka memar lainnya. Ini bumbu sehari-hari mereka orang, tidak bahaya.”

Hatimu seperti ingin mengambilnya karena dibawa kekasih dari negeri jauh. Tapi kau yakin akan menerima lebih banyak yang berbeda di saat pertemuanmu kelak. Lagipula untuk sakit-sakit semacam itu kau hanya perlu asam jawa saja.

“Bagaimana bentuk kapalnya? Apa itu kapal punya meriam dan galleon?” alihmu, terkenang cerita pengalaman Serranõ saat diserang lanun Makassar dan Bugis sepulangnya dari Banda membeli pala. Kapten kapal itu punya senapan meski kapalnya tak bermeriam.

“Beta dengar cuma Jung Cina muslim sisa Dinasti Ming yang membawa ahli cuaca, juru masak, dan anak-anak. Pedagang Cina biasanya kapal keluarga.”

Kau menyurut. Bila punya meriam tentu tak akan ada bajak laut berani mendekat.

“Maafkan beta, Nona…”

“Apa do sempat menyebut namaku?”

“Tidak, Nona…” gelengnya laun.

Sejak saat itu setiap ada kapal Cina yang datang kau bergegas ikut kapal nelayan. Alih-alih menjual manik-manik cangkang kerang kau mencari mata pada sosoknya. Tapi tak ada ia. Pun getar suaranya. Hingga berpuluh tahun sudah dan tak terhitung jumlah kau bersinggah, kau akhirnya meninggal dunia dalam sebuah harapan yang begitu rapat tersimpan.

O, Malea. Kau telah sematkan di hati laksana sumpah kau akan terus menunggunya sampai bumi terbelah. Bila mana ada kapal Cina yang datang, kau seperti muncul dalam remang gelap malam di ujung dermaga, dalam sembab angin senja dan basah pagi, hari ke hari…

Catatan Belakang

Nyong Salam. Nyong = bujang atau lelaki muda. Salam = kalangan muslim Maluku.

Salawaku: Perisai dari kayu bagi senjata parang khas Maluku.

Kun: Dari nama Coen, Gubernur Jenderal Hindia Belanda Jan Pieterszoon Coen yang membantai 6.600 lebih rakyat Banda pada 18 Mei 1621 demi menyingkirkan Inggris dan memonopoli perdagangan pala.

Ale: Kamu.

Perkenier: Orang-orang Eropa bebas ataupun mantan pejabat VOC yang tidak mau meninggalkan Hindia yang menyewa lahan kepada Kompeni (VOC) untuk bertanam pala. Ini merupakan kebijakan JP Coen yang dikeluarkannya tak lama setelah membantai rakyat Neira. Setiap perk (perkebunan) diberi 25 orang budak untuk mengerjakan dan setiap tahun para penyewa kebun ini harus menyetor ± 4500 rijksdaalder (ringgit). Total penyewa di seluruh Kepulauan Banda ada 68 dengan luas tanah per perk ± 12 ha – 30 ha. Hasil panen tidak boleh dijual keluar selain kepada Kompeni dan dengan harga yang sangat murah. Hal ini berlangsung selama lebih dari 2 abad sampai awal abad 20.

Bala: Golongan rakyat jelata.

Bapa Raja: Kepala desa atau tetua adat.

Do: Dia.

Sarani: Kalangan Kristen Maluku.

 

Cerpen ini Memenangkan Anugerah Sastra dan Seni Universitas Gadjah Mada ke-3, Rabu, 2 Desember 2015.

 

Dahlia Rasyad lahir di Palembang 12 Oktober 1983. Menyelesaikan studi di jurusan Pendidikan Bahasa Inggris. Tahun 2007 pernah mendapatkan predikat sebagai Duta Bahasa Sumatera Selatan. Novel pertamanya Perempuan yang Memetik Mawar mendapatkan Penghargaan Sastra dari Balai Bahasa Yogyakarta sebagai Karya Sastra Terbaik 2014. Saat ini tengah merampungkan novel ketiganya Sebotol Parfum di Terusan Tua.