Kenyataan Yang Membangun Citra

Oleh Syaifudin Zuhri

Redaktur Pelaksana

 

Memperkenalkan diri ke khalayak yang lebih luas dapat dilakukan dengan bermacam cara, baik itu melalui kegiatan kunjungan kesebuah tempat, mengadakan event-event, dan juga membagikan selebaran, namun itu hanya sekedar ajang untuk memperkenalkan diri bagi seorang kepala daerah (kabupaten/kota) untuk menuju jenjang kepemimpinan yang lebih tinggi (gubernur).

Lalu keingin tahuan public akan terus bergulir, sebuah pertanyaan mendasar akan muncul, misalnya apa yang telah ia lakukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah yang dipimpinnya? Lalu bagaimana pertanyaan tersebut dapat terjawab? Tentunya tak sesederhana apa yang terucap dan juga apa yang tertulis.

Bisakah kabupaten/kota anda menghidupi diri sendiri, misalnya tidak mengimpor sayur dari kabupaten/kota yang lain, atau bisakah hasil panen padi di kabupaten anda mencukupi kebutuhan beras seluruh masyarakat kabupaten anda sampai musim panen berikutnya? Memperlihatkan kemajuan-kemajuan di Kabupaten yang dipimpinnya tentu menjadi bahan perkenalan yang sangat baik, dan dapat menjadi tolak ukur penilaian public.

Tentu saja tak ada gading yang tak retak, namun persentase besar untuk sebuah majunya taraf sebuah daerah yang dipimpin dapat mencerminkan pemikiran, kebijakan serta kinerja si kepala daerah tersebut.

Hal ini tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi kepala daerah yang akan mencalon ke jenjang yang lebih tinggi, bagaimana akan dipercaya masyarakat luas jika di daerahnya saja masih banyak pembangunan yang belum atau tidak terlaksanakan, dalam kata lain persentase masyarakat sejahtera masih rendah.

Citra baik yang dibangun namun tak seindah kenyataan tak akan dapat menolong untuk mendapat empati publik, karena kenyataanlah yang akan membangun citra, cepat atau lambat kenyataan akan berbicara membentuk opini public.