Melihat Lebih Dalam Perpustakaan Islam Masjid Agung Palembang

Palembang,kabarretorika.com- Berkunjung ke tempat-tempat bersejarah memang menyenangkan. Melihat bangunan-bangunan tua yang masih berdiri hingga sekarang mengingatkan pada satu hal bahwa perubahan memang nyata adanya, dan bahwa masa kini memang tak pernah lepas dari peran masa lalu.

Perpustakaan Islam Masjid Agung Palembang  6Salah satu tempat yang dapat kita kunjungi adalah Masjid Agung Palembang yang terletak di jantung kota perdagangan baru kota Palembang yang mengitari kawasan seputar Benteng Kuto Besak, benteng pertahanan sekaligus istana peninggalan Kesultanan Darussalam. Masjid yang juga dikenal dengan Mesjid Sulton ini dibangun tahun 1739 dan telah berkali-kali mengalami renovasi. Di lantai tiga terdapat sebuah perpustakaan islam.

Perpustakaan Islam Masjid Agung Palembang 5Kita dapat melihat-lihat koleksi bukunya yang mayoritas bertemakan islam. Perpustakaan ini sudah dikelola sejak tahun 1975 dan asal muasal buku-bukunya yang berjumlah 4000 lebih didapat dari hibah pameran MTQ Nasional ke VII tahun 1975. Buku-buku itu diserahkan oleh Gubernur Sumsel kepada Yayasan Masjid Agung di atas Surat Keputusan tahun 1985. Jadi sebelum buku-buku itu tersusun di rak masjid ini sudah memiliki perpustakaan meski masih dengan koleksi seadanya.

Perpustakaan Islam Masjid Agung Palembang 2Laiknya perpustakaan kita tentu boleh meminjam buku. Syaratnya cukup fotokopi KTP dan pasfoto 2 lembar. Tempo peminjaman selama satu minggu, dan jika lewat maka akan didenda Rp 500 per harinya.

“Koleksi-koleksi yang bisa kita lihat dan baca adalah naskah-naskah kuno, Kitab Melayu, dan fiqih-fiqih hasil pikir ulama-ulama ternama. Perpustakaan dibuka sedari pukul 09.00 pagi hingga 15.00 sore. Pukul 12.00 hingga 13.00 ditutup sebentar untuk istirahat,” kata Oktaviani.

Perpustakaan Islam Masjid Agung PalembangSelain meminjam dan membaca, masyarakat dapat mengadakan acara-acara diskusi disini, terkhusus yang bertemakan islam dan sastra. Datangi saja perpustakaan dan bicarakan dengan pustakawannya yang ramah-ramah; Muhammad Toyib dan Oktaviani. (dahlia)