Peneliti Balai Arkeologi Palembang Teliti Batu Niding

Lahat,kabarretorika.com-Selama Satu minggu, sejak Sabtu (16/4) Badan Arkeologi (Balar) Palembang melakukan penelitian di Lahat tepatnya di Desa Batu Niding, Kecamatan Pseksu dan Desa Bungamas Kecamatan Kikim Timur, penelitian tersebut dipimpin oleh arkeolog Wahyu Rizki Andhifani dengan 5 orang peneliti lainnya sekaligus ahli geologi. 

Para ali dari Balar tersebut meneliti tentang survei arkeologi, tapi lebih khusus tentang alat litik (batu) dan teras sungai di Sungai Kikim yang merupakan muara dari Sungai Saling, Cawang,  Empayang, Lingsing  dan Pangi.
dolmen 2“Rupanya informasi masyarakat ini selain penemuan beberapa alat litik dan teras sungai kita diajak ke Desa Batu Niding. Batu Niding sendiri menurut warga setempat artinya miring,” jelas Wahyu, kemarin.
Menurut Wahyu alat batu sendiri pada jaman prasejarah digunakan untuk memotong dan menyerut. Sementara teras sungai sendiri penyusun dari sungai tersebut terdiri dari lapisan batuan, kerikil dan tanah yang terlihat.  Tujuannya awal penelitian yakni mengenai pola sebaran alat alat litik di Sumsel dan untuk mencoba mengetahui area situs terbuka di DAS Kikim.
“Kita bersama salah satu perangkat desa yakni Jaya Irawan menuju lahan Ibnu (56), ternyata disana kita melihat batu Niding (miring) yang dugaan awal merupakan dolmen, sebab menurut warga bahwa salah satu atau dua batu di depannya memang dahulunya ada,” papar Wahyu.
Lokasi batu niding sendiri berada di antara perkebunan kopi yang berjarak sekitar 1 km dari pemukiman penduduk dan diriwayatkan mereka bahwa desa setempat merupakan dusun lampau atau pemukiman masa lalu.

“Tak jauh dari sana kita menemukan batu (monolith) yang bentuknya hampir melingkar sebanyak 10 buah batu,” jelasnya.
Diterangkan Wahyu bahwa jarak antara  dolmen dan bebatuan yang melingkar tersebut sekitar 20 meter masih di lokasi kebun. Penelusuran mereka hingga tak jauh dari tepian sungai, terlihat banyak ditanami bambu aur yang berduri.

monolith yg melingkar 10“Biasanya jika ada tanaman bambu aur berduri dan terdapat gundukan tanah yang lebih tinggi, dahulunya bisa jadi areal tersebut merupakan benteng tanah yakni sebagai lokasi pertahanan dari musuh. Apalagi ada parit yang dibuat di areal yang berbentuk “U” di tepi Sungai Cawang,” tutur Wahyu.
Menurut warga setempat yakni Jaya Irawan sendiri mereka tidak tahu bila batu yang mereka sebut batu niding tersebut merupakan Dolmen. Hanya saja mereka mendapat cerita dari nenek-nenek mereka bahwa tempat tersebut merupakan dusun lama.

“Kami hanya tahu kalo kebon ni dulunye wilayah dusun lame. Peninggalannye ye batu niding yang jadi name desa ini,” ungkapnya. (red)