Presiden Belum SAH-kan pemekaran Kabupaten Kikim Area

PETA KIKIM

Lahat, Kabar Retorika.com- Usaha yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lahat guna memekarkan wilayah kikim Area kini tinggal menunggu ACC dari Presiden Republik Indonesia, sebab surat yang dilayangkan oleh pemkab kepada anggota DPR-RI Komisi dua sudah di tangan Presiden.
Kepala Bagian Pemerintahan Kabupaten Lahat Drs.Ramsi mengatakan, pihaknya sudah ke jakarta beberapa waktu lalu, disana pihaknyapun mengawasi surat ajuan untuk pemekaran wilayah kikim area tersebut, alhasil pemekaran wilayah yang akan dipecah dari Kabupaten Lahat tersebut surat ajuannya yang dulu menunggu ketuk palu dari DPR-RI Komisi II sudah di setujui dan saat ini masih menunggu ACC dari Presiden.
“Kita tinggal menunggu, apapun hasil dari keputusan Presiden tersebut akan kita terima, dan kitapun berharap pemekaran wilayah tersebut bukan hanya wancana yang disampaikan kepada masyarakat akan tetapi bukti yang juga harus kita perlihatkan kepada masyarakat bahwa kita memang benar-benar ingin melakukan pemekaran wilayah itu,” tuturnya.
Ia pun mennyampaikan, diharapkan masyarakat kikim Area bersabar menunggu untuk dijadikannya kikim Area sebagai kabupaten baru hasil pemekaran dari Kabupaten Lahat.
Jariman, seorang warga kikim kepada awak media mengatakan, dirinya sangat berharap agar daerah asli kelahirannya tersebut secepatnya dimekarkan guna meningkatkan pembangunan derah, SDM dan SDA yang ada selama ini.   Dia pun menambahkan, dengan pemekaran wilayah yang sedang diusahakan oleh pemkab ini, dapat direalisasikan oleh pemerintah pusat dalam hal ini presiden.
“Kami hanya sebagai masyarakat biasa hanya bisa berharap agar daerah kami tersebut dapat dijadikan wilayah pemekaran secepatnya, sebab selain saya pribadi masyarakat lainnyapun sangat menunggu kapan kikim ini dapat menjadi Kabupaten,oleh karena itu kami sangat berharap pak presiden dapat menyetujui usulan Kikim Area Menjadi salah satu Kabupaten Baru hasil pemekaran dari Kabupaten Lahat” katanya saat pada wartawan kemaren. (Supelman)