Seminar Bahasa Melayu dan Museum Seganti Setungguan

KABARRETORIKA.COM,LAHAT-Kamus Bahasa lahat telah diterbitkan dan akan menjadi muatan lokal di sekolah-sekolah di Kabupaten Lahat, hal ini disampaikan pada seminar Bahasa dan Melayu dan Museum Seganti setungguan, kamis,(19/05) di ball room salah satu hotel di Kabupaten Lahat. Seminar yang diselenggarakan oleh Ikatan Keluarga Seganti Setungguan (IKSS) dihadiri oleh Marsma Rakhman Haryadi Ketua IKSS, Bupati Lahat, para guru, kepala sekolah, kepala dinas, tetua adat serta masyarakat lainnya.

Dalam seminarnya, Dr. Sutiono Mahdi, Drs., M.Hum  yang merupakan dosen di Universitas Padjajaran Bandung dan juga ketua jurusan program studi bahasa dan sastra Inggris menyampaikan bahwa 25 tahun kedepan bahasa Lahat akan punah jika tidak dilestarikan.

kamus bahasa lahat“Kamus bahasa lahat Tersebut diterjemahkan dalam Inggris dan Indonesia agar orang Lahat yang berada diperantauan mengerti serta agar orang luar negeri mengetahui bahasa melayu seganti setungguan,” kata Mahdi

Sebelumnya Dr. Sutiono Mahdi, Drs., M.Hum  telah menulis buku kamus bahasa basemah yang juga diterjemahkan kedalah bahasa Indonesia dan Inggris, buku Aksara Base Basemah yang berisi tentang huruf Ulu, menulis buku Bahasa Basemah 2 jilid dan menulis buku bahasa basemah Cete untuk Sekolah dasar, Pacak untuk SMP serta Kintar untuk SMA.

buku bahasa basemahBuku ini sengaja diberi judul buku kamus Base Melayu Seganti Setungguan, karena di Kabupaten Lahat dan sekitarnya terdapat banyak suku yaitu Basemah,Gumay, Kikim, Lematang, Semende, Lintang dan Tanjung yang merupakan sebuah kesatuan, kerukunan dan kebersamaan dan memiliki cirri bahasa yang sama yaitu Vokal e dengan cara pengucapan/dialeg yang berbeda.

“Menyelamatkan, melestarikan dan mengembangkan bahasa Melayu Seganti Setungguan menjadi bahasa ilmiah pendamping bahasa Indonesia,” katanya

Dr. Sutiono Mahdi, Drs., M.Hum  telah menulis makalah dengan judul Kepunahan bahasa Basemah di Kota Pagaralam dan kota Lahat tinggal masalah waktu, makalah ini dibawakan pada International Conference Linguistics Scientific Meeting ditahun 2015

buku bahasa basemah jilid 1 dan 2Menurut data UNESCO,bahasa yang terancam akan punah adalah bahasa India, Amerika Serikat dan 147 bahasa di Indonesia di wilayah timur.

Bahasa yang berpotensi akan tetap lestari dan terjaga adalah bahasa yang penuturnya masih dalam angka lebih dari 1.000 orang dan dibawah 500 orang, bahasa tersebut dikategorikan sebagai terancam punah.

Bahasa Melayu Seganti Setungguan tidak termasuk dalam kategori terancam punah, namun pelestarian bahasa Melayu Seganti setungguan memiliki masalah yang berbeda dengan permasalahan pelestarian bahasa di tempat lain.

Dari penelitian Dr. Sutiono Mahdi, Drs., M.Hum dari tahun 2014 dan 2015 jumlah pengguna bahasa basemah dalam keseharian semakin menurun dari 27,43% menjadi 8,8% hal ini akibat pengaruh dari naikknya penggguna bahasa Palembang yang semula 62% menjadi 84,8% penggunaan bahasa Indonesia pun menurun dari 9,37% menjadi 5,6%.

buku aksara basemahPenurunan tersebut bukan tanpa alasan, kebiasaaan berbahasa lain pada anak anak adalah hal utama hilangnya bahasa Basemah menempati urutan pertama, remaja 95%, dewasa 45% sedangkan karena gengsi hanya terdapat pada kalangan remaja sebesar 10% dan Dewasa 55%.

Penggunaan suatu bahasa tergerus oleh bahasa lain yang lebih popular Bahasa tersebut tidak menjadi lingua franca (bahasa komunikasi dalam perdagangan ataupun komunikasi sehari-hari)

Menyebarnya pengaruh media massa (globalisasi), Makin meningkatnya arus urbanisasi, perpindahan penduduk dan perkawinan antar etnis, Bahasa tersebut sulit dipahami dan dimengerti, misalnya bahasa sansekerta kini bisa dikatakan punah. Huruf-hurufnya  yang sulit dipahamidan kata kata yang sulit dimengerti telah membuat bahasa ini tidak lagi dipakai orang banyak, Bahasa tersebut tidak dilestarikan sehingga tidak ada penambahan kosakata atau perubahan apapun, Adanya larangan menggunakan bahasa tertentu oleh pihak penguasa atau penjajah. Dominasi bahasa resmi dari suatu Negara pada sector ekonomi dan pendidikan (red)