Situs Megalitik Gunung Kaye di Kaki Dempo

megalith gunung kaye1Pagar Alam, Kabarretorika.com – Memasuki Desa Gunung Kaye, Kecamatan Jarai, Kabupaten Lahat sekitar dua jam perjalanan kami tempuh dari Kota Lahat, dan melewati Kota Pagaralam akses menuju ke sana. Langit mendung, sehingga Gunung Dempo yang terpampang dihadapan seluruhnya ditutupi awan.
Pelataran sawah yang ditanami padi yang sudah berusia sekitar dua bulan ini, dan sebagian lagi tanah subur ini ditanami sayur mayur hijau berada dikaki Gunung Dempo, diantara persawahan dan perkebunan sayur ini berjajar batu-batuan yang diperkirakan dahulunya merupakan pemukiman kuno jaman pra sejarah.Sekitar tahun 1980an diceritakan Ludio (58) mantan juru pelihara Situs Megalith Gunung Kaye, yang berada di Desa Gunung Kaye, Kecamatan Jarai ini perihal munculnya lesung batu peninggalan megalitik atau peninggalan batu besar yang ada di sana mulai digali. “Waktu itu kene cangkul kami besawah, taunye nemuke batu lesung ni tetutup tanah. Jadi kami pindahka pematangnya supaya lesung batu ini terlihat, dekat pondok ini ada 3 yang memiliki satu lubang,” ungkap Ludio, Rabu (4/2) kemarin di sawahnya yang saat ini digilir ditanami macam-macam sayuran selain juga ditanami padi.

megalith gunung kaye2Karena Ludio sudah tua, maka juru pelihara Situs tersebut saat ini adalah
anaknya nomer empat Afian Saudi (26).Ludio, Sejak 1987an  menjadi juru pelihara beberapa batu datar, Dolmen, arca manusia sedang memeluk anak dan tebaran lesung batu yang ada di ataran sawah miliknya tersebut.

Dolmen yang bentuknya besar dan memiliki kaki ini saat dihitung berjumlah sekitar 10, ada pula batu bergurat karena jenis batuan korosif maka tidak terlihat aksara atau gambar yang ada. Arca manusia yang memeluk anaknya rebah ditengah sawah. Lesung batu berlubang satu, dua dan 4 tampak bertebaran. Yang berjarak 100 meteran dari areal yang penulis telusuri ada setidaknya 6 lesung batu.
“Caknyo dulunyo tempat menumbuk padi atau biji-bijian, sekaligus tempat menjemurnya,” ungkap Sugianto (54) warga setempat asal Ponorogo, Jateng.

Warga sana, melihatnya sebagai bagian dari persawahan yang mereka miliki tebaran batu-batuan yang jumlahnya puluhan. “Banyak peneliti kesini, katanya sejak jaman Belando. Kalo kami betani disini sejak tahun 1984. Dan batuan ini sudah ada, kami pelihara saja. Sesuai dengan kami memelihara sawah dan kebun sayur ini,” ujar Sugianto.

Sementara, anak-anak di sekitar Jarai sendiri tidak banyak ketertarikan dengan situs-situs yang ada. Padahal, peradaban masa lalu tentang kehidupan pra sejarah hanya sedikit informasi tertulis di buku Megalitic Remains in South Sumatera. “Kami dak tau yuk batu ape. Jarang pule kesano. Biaso bae kalu bagi kami,” kata Reni (15) salah satu pemuda setempat.

Ditakutkan dengan kondisi batuan yang korosif dan sebagian  hancur akan semakin memprihatinkan jika tak ada tindakan lebih dari pemerintah untuk memeliharanya. Sementara anak-anak yang ada akan semakin kehilangan sejarah dari peninggalan nenek moyang mereka jika tak ikut dirangkul untuk tertarik memeliharanya. (Soufie Retorika)