Soft Lounching NBKH, Angkringan Diskusi

Palembang,kabarretorika.com-Suasana di halaman kantor Kopi Hitam Management Palembang tadi malam, Kamis (17/3/2016)  dipenuhi puluhan sejumlah mahasiswa, wartawan, aktifis, akademisi dan sejumlah undangan lainnya. Mereka hadir dalam rangkaian soft lounching angkringan Nasi Bakar Kopi Hitam (NBKH). Tak ketinggalan iringan musik, life akustik performance ikut mewarnai acara itu.

Acara berlangsung sederhana. Semua mengalir seperti air. Tamu datang dan pergi silih berganti memesan sejumlah menu yang disediakan NBKH. Acara mulai dibuka sejak pukul 19.00 – 00.00 WIB. Darwin Syarkowi, salah satu pengelola NBHK menyebutkan, acara ini sengaja dibuka perdana pada malam Jumat untuk mengambil malam yang penuh berkah.

“Malam Jumat menurut para ulama banyak menyimpan rahasia ilahi, makanya kita mengambil berkahnya, kita buka perdana di malam Jumat ini, bismilah berkah,” ujarnya.

pembukaan kopi hitamNBHK yang baru hari pertama dibuka ini dikelola oleh personil jurnalis, Darwin Syarkowi, Imron Supriyadi dan Riki Sanjaya, salah satu Praktisi Design Grafis di Palembang.  Darwin menyebut angkringan yang dibuka ini bukan sekadar menjual makanan, namun angkringan ini dibuka untuk menjadi ruang diskusi bagi mahasiswa, wartawan di Palembang, baik yang tergabung di Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Palembang dan Pewarta Foto Indonesia (PFI) Sumatera Selatan.

“Angkrigan ini kita buat suasana yang intelek, sehingga yang didapat bukan hanya makanan jasmani tapi juga muatan intelektual,” ujar Darwin yang juga Ketua AJI Palembang.

Guna memaksimalkan suasana intelektual itu, Darwin menyebut, di masa mendatang akan menjalin kerjasama dengan semua pihak untuk ikut dalam diskusi, baik yang mingguan, bulanan atau program lain yang memberi muatan intelektual.

Bahkan, di tengah kesibukan melayani para pengunjung, Darwin sempat berbincang dengan Mushaful Imam, salah satu fotografer di Palembang untuk merencanakan pameran foto bagi wartawan di Palembang. “Kita akan jalin para fotografer di Palembang untuk bisa melakukan pameran foto di angkringan ini. Selain itu kita akan buat perpustakaan kecil agar mereka bisa membaca sembari menikmati hidangam. Belum lagi di angkringan kita juga pakai Wi-fi area, jadi komplit,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Mushaful Imam juga mengapresiasi angkringan NBHK. “Tempatnya sangat strategis di jalan utama. Sehingga dari manapun tempat ini mudah dijangkau. Lokasinya enak. Tempat ini bisa untuk diskusi dan atau bedah hukum,” ujarnya saat berbincang dengan Darwin.

Bukan hanya kalangan wartawan, tetapi juga bagi warga di Palembang pada umumnya, angkringan ini terbuka untuk siapa saja. Bagi sekelompok musisi, panyair dan seniman di Palembang juga bisa ikut berapresiasi di angkringan ini.

“Kita membuka bagi semua kalangan. Silakan berapresiasi, agar angkringan ini  bisa lebih semarak dan tetap menjaga suasana yang intelek,” tegasnya.

Di tengah kesibukan para pengelola angkringan, Candra Darmawan, salah satu akademisi Uinevrsitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang sempat menyoal nama kopi hitam. “Artinya back to nature. Ini simbol bagaimana kita harus kembali pada nilaipn ilai kearfan lokal. Sebab kopi, di Sumsel menjadi salah satu tiang penyangga kehidupna setelah padi,” ujar Imron yang menemani obrolan malam itu bersama Pemimpin Umum Sumsel Update, Solehun Mushadin dan Efendi, saah satu PNS di Palembang.

Ketika malam kian merambah pagi, para tamu mulai beranjak pulang. Angkringan mulai sepi. Para pengelola angkringan NBHK juga berbenah dan membersihkan bekas-bekas kesibukan dan siap membuka kembali di esok hari.

TEKS / EDITOR : T PAMUNGKAS/ kabarsumatera.com