Songket Art Bakal Gelar Pentas Tunggal Iir Stone

Palembang,kabarrretorika.com- Melihat potensi seni musik di Palembang, menggerakkan sekelompok anak muda Palembang yang tergabung dalam “Songket Art” untuk menggelar pentas tunggal. Kali ini, Songket Art Palembang dengan tema “pesan kelakar dalam lagu” akan menggebrak panggung musik di Taman Budaya Sriwijaya Palembang mengusung sosok Iir Stone, salah satu musisi di Palembang.

Bagi warga di Palembang nama Iir Stone tidak asing. Sebab merunut perjalanan karya musiknya, Iir sudah mulai berlajar musik sejak di bangku sekolah dasar (SD) di era 80-an.

“Apa yang saya dapatkan sekarang juga tidak lepas jasa dari paman saya, yang sudah mengajari musik,” ujarnya, saat dijumpai pekan silam (13/4/2016) di sela-sela pembinaan pemenang Festival Seni dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) Palembang di Hotel Paradise.

Iir mulai belajar musik bermula dari bermain gitar. Tak puas belajar dari pamannya, Iir kemudian mengembangkan bakatnya dengan terus mengeksplore sendiri bersama rekan lainnya. Kian hari, Iir makin asyik dengan dentngan gitar hingga kini. Tak sampai pada gitar, Iir kemudian meramu alunan musiknya dengan belajar instrumen harmonika. Merasa tidak puas, Iir menyempatkan diri kursus dengan seorang teman. Kebetulan, sang teman adalah seorang guru musik di Palembang.

“Saya tidak lama belajar harmonika dengan teman saya. Setelah setelah itu saya mengasah sendiri. Dan sampai saat ini ada tiga album yang sudah tercipta,” ujarnya kepada KabarSumatera.Com. Sebagaimana gagasan Songket Art, diharapkan dengan event ini dapat memacu masyarakat khususnya generasi muda di Palembang untuk melestarikan kearifan lokal melalui musik.

Sebab tidak dipungkiri, sejumlah lagu ciptaan Iir Stone juga mengedepankan nilai-nilai kearifan lokal Sumatera Selatan. Diantaranya, album pertama perpaduan musik yang berkolaborasi dengan penyair Palembang M Iqbal J Pernama. Album ini dikemas dalam bentuk musikalisasi puisi yang berjudul Siberian Flight. Album ini berkisah sekumpulan burung bangau yang bermigrasi dari Mongolia ke Taman Nasional Sungai Sembilang, Kecamatan Sungsang, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.

“Pesan dalam puisi ini tentang bagaimana seringkali kita abai terhadap fenomena-fenomena yang terjadi di sekitar kita, termasuk pola migrasi ribuan burung dari negeri seberang ke taman yang mulai terlupakan,” ujarnya.

Album keduanya, bertajuk Rumah Petani, juga merupakan musikalisasi dari puisi milik Penyair JJ Polong. Deretan syairnya berpesan moral tentang desa-desa yang ditinggalkan oleh penghuninya saat paceklik tiba, untuk menuju pertarungan melawan kemajuan kota. Album ketiga, Iir mengemas lima lagu karyanya dalam kelakar atau guyonan sehari-hari dalam bahasa Palembang yang kental. Ada beberapa judul lagu yang sengaja mengusung dialeg Palembang.

Misalnya, Lagu Berejo, Banyak Rasan, Jadi Pekeran, Songket, dan Abah Ebok (Berentilah Dugem). “Lagu ini saya olah dengan gurauan. Lagu-lagu dalam album ini memiliki filosofinya masing-masing, yang menggambarkan perilakau warga di Palembang, terutama kalangan anak mudanya,” tambah Iir. Even ini rencananya akan dilegar pada 7 Mei di Taman Budaya Sriwijaya Palembang mulai pukul 15.00 s.d 17.00 wib. Tajuk yang diusung: Pentas Karya Iir Stoned.

“Nanti di panggung akan kita buat kolaborasi antara saya dan sejumlah anak muda. Mereka ikut meramaikan pentas ini dengan menyanyikan lagu-lagu saya,” ujar Iir Stone.

TEKS / EDITOR : IMRON SUPRIYADI