Category Archives: Sastra

Sekembalinya Aku Nanti

Puisi-Puisi Aan Kunchay
Sekembalinya Aku Nanti

Sekembalinya aku nanti
Masih adakah kebencian di sana
Di galengan yang saban hari
menjuntai di pelupuk mata
Di riak sungai, di surau tua
yang kian hangat di kepala

Cik Ujang Pelopori Gerakan Literasi Kabupaten Lahat

Lahat, Kabarretorika.com – Bupati Kabupaten Lahat, Cik Ujang SH secara resmi meluncurkan buku antologi Cerpen dan puisi karya putra-putri daerah Kabupaten Lahat, “Senandika”. Kegiatan peluncuran dilangsungkan di Gedung Pertemuan Pemerintah Kabupaten Lahat, Rabu (03/03/2021).

Bupati Lahat Segera Luncurkan Buku Antologi Cerpen dan Puisi ” Senandika”

Lahat, Kabarretorika.com – Berawal dari lomba Cipta Cerpen dan Puisi wartabianglala.com tahun 2021 yang diadakan media online Warta Bianglala, bekerjasama dengan Pemkab Lahat melalui TP PKK dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lahat, serta turut didukung Bank Sumsel Babel dan PT Bukit Asam, Tbk. Kemudian dari pergelaran event tersebut, terciptalah sebuah buku yang diberi nama Senandika. Buku ini berisikan karya-karya putra-putri daerah Kabupaten Lahat lintas generasi, dari tingkat SD, SMP, dan Umum, yang menjadi peserta lomba tersebut.

PD IWO Lahat Apresiasi Penyair Muda Allya Novellya

LAHAT, KABARRETORIKA.COM, – Pengurus Daerah Ikatan Wartawan Online (IWO) Kabupaten Lahat memberikan apresiasi kepada penyair muda Lahat yang baru saja meluncurkan buku kumpulan puisinya berjudul Panah Ranjang.

“PANAH RANJANG”, TOREHAN KARYA PUTRI KABUPATEN LAHAT

LAHAT, KABARRETORIKA.COM, – Seorang putri daerah Kabupaten Lahat, Allya Novellya Kusuma Wisnu, melahirkan buku kumpulan puisinya dengan judul buku Panah Ranjang. Buku ini diterbitkan di penerbit Sublim Pustaka Aksara Palembang.

FLSS AKU DAN PUISI

Lahat Kabarretorika.com- Bertempat di Angkringan tengah jalan Kolonel H.Burlian Kabupaten Lahat puluhan pemuda yang tergabung dalam Forum Literasi Sang Surya (FLSS) gellar malam baca puisi dan Diskusi.

Dermaga Tua di Pulau Neira

Cerpen : Dahlia Rasyad

SEPERTI pala, kau menebarkan aroma kepedihan. Bunga-bunga ratapan dari angin timur yang menerbangkan haru biru perpisahan. Masih terdengar degap-degap kapal yang membawa sauh kekasih entah ke mana. 400 tahun lalu, di pesisir Neira, dalam kemelut berdarah tak tertanggungkan.